Baju Lusuh dan Kumal di Hari Raya

Dia lo gue Iman [Oleh: Ukhuwan Ibnu Sa’id]

Hari Raya baik I’dul Fitri maupun I’dul Adha merupakan hari kebahagian Ummat Islam. Kebahagian ini biasanya ditandai dengan penampilan pakaian baru, sepatu yang modis, dan kendaraan yang nyaman. Beginilah sebagian orang memaknai Hari Raya I’dul Fitri dan I’dul Adha. Paling tidak satu set pakaian baru di Hari Raya.

Dalam rangka merayakan hari I’d itu, khalifah Umar Bin Abdul Aziz – seorang khalifah yang paling zuhud – keluar dari istananya. Ia pergi ke tengah masyarakat. Tanpa pengawalan ia berjalan masuk keluar kampung. Sementara rakyatnya yang larut dalam kebahagiaan hari raya hanya melempar senyum dan salam hangat dari kejauhan.

Di tengah kunjungan itu, mata khalifah Umar Bin Abdul Aziz tertuju pada sesosok kecil yang mengenakan pakaian dengan warna usang dan lusuh. Tidak salah, anak itu tidak lain adalah anak khalifah itu sendiri. Menyaksikan kondisi anaknya di hari raya, persendian lutut Khalifah Umar Bin Abdul Aziz lemas. Ia tidak tega menyaksikan anak seorang khalifah nampak terlantar. Sambil mendekati anaknya, air mata khalifah semakin deras menetes pada jubahnya.

“Mengapa ayah menangis?” tanya sang anak polos “Anakku, ayah khawatir kamu akan patah hati dan langit-langit di hatimu runtuh ketika anak-anak kecil lain menyaksikanmu dengan pakaian lusuh dan kumal di hari raya ini.” Jawab Khalifah Umar sambil terisak.

“Wahai amirul mukminin, engkau tidak perlu khawatir. Orang yang patah hati adalah mereka yang diluputkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari ridha-Nya atau mereka yang mendurhakai ibu dan bapaknya. Dan aku berharap Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhaiku berkat ridhamu wahai ayahku.” Jawab sang anak dengan penuh percaya diri.

Jawaban ini di luar dugaan Umar Bin Abdul Aziz. Air mata haru Khalifah mengucur deras dan segera mendekap anak kecil yang mengenakan pakaian lusuh dan kumal itu. Khalifah Umar Bin Abdul Aziz mengecup kening bawah yang terletak diantara kedua mata anaknya sambil mendo’akannya.

Anak ini bernama Abdul Malik Bin Umar Bin Abdul Aziz. Ia tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan orang yang paling mirip dengan Abdullah Bin Umar di antara seluruh keturunan Al-Khathab. Khususnya dalam hal ketaqwaan, rasa takutnya dalam bermaksiat dan taqarrubnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Umar Bin Abdul Aziz memiliki 15 anak, tiga diantaranya adalah wanita. Mereka seluruhnya memiliki prestasi dalam hal ketaqwaan dan tingkat keshalihannya. Akan tetapi Abdul Malik bagaikan core of the core — intinya inti di antara saudara-saudaranya, atau seperti bintang di tengah-tengah mereka. Ia adalah seorang yang sopan, mahir, dan cerdas, umurnya masih belia namun akalnya begitu dewasa.

Kisah ini disarikan dari Kitab حاشية الشرقاوي

Dipenghujung Ramadhan 1440 H Pojok Masjid At-Taufiq Srondol, Semarang | Guru ngaji