Oleh: Dr. Wido Supraha, M.Si. | Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor Akhir-akhir ini terlihat sebagian pengguna sosial media semakin senang dengan tontonan daripada tuntunan. Tontonan seperti jogat-joget, gosip artis, Live Ngemis, dan meneliti kehidupan selebgram lebih disukai daripada tuntunan yang mengandung edukasi, bedah buku, kesehatan. Minat baca bangsa Indonesia menurut data UNESCO jatuh di tingkat 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca.[1] Central Connecticut State Univesity (Maret 2016) bahkan menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca, di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).[2] Ketika negara lain sangat ‘kepo’ dengan ilmu pengetahuan, sebagian generasi muda Indonesia lebih ‘kepo’ dengan kehidupan artis yang dipuja-puji. Tuntunan edukasi dari dokter, guru atau pakar lebih dipandang sebagai sosok cari panggung yang pencemburu atau ingin mematikan kesenangan dan usaha orang lain. Korelasi literasi dengan IQ sepertinya cukup kuat. Terlihat dengan nilai rata-rata IQ Indonesia adalah 78,49, peringkat ke-129 berdasarkan _World Population Review._ [3] Korelasi literasi ini juga akan sangat terkait dengan banyaknya bermunculan generasi muda yang mengalami gagal ginjal, hipertensi, kolesterol, dan diabetes.[4] Selain tidak pernah olah raga, karena bahagia menjadi generasi rebahan (gebah) sehingga mager (malas gerak), makanan yang dipilih pun tidak berbasis literasi. Tersebutlah di antaranya seperti tahu hoheng, seblak, keripik kaca, mochi micin, boba manis, kolagen KW, dan sejenisnya. Ketika banyak pemuda di belahan dunia menghabiskan waktu di perpustakaan atau toko-toko buku, sebagian generasi muda kita lebih memilih ngobrol gajel (gak jelas) sambil nge-vape di warkop (warung kopi) atau _coffee shop._ Ketika sebagian pedagang sukses sudah mulai banyak yang menikmati usahanya dengan jalan-jalan ke luar negeri, sebagian pemuda dengan kebiasaan buruk justru sakit-sakitan di atas pembaringan. Nutrisi informasi ke otak yang tidak baik diperberat dengan nutrisi gizi buruk ke dalam jasad, maka tidak akan lahir generasi yang senang berpikir mendalam. Padahal, tanpa kebiasaan berpikir tidak akan lahir perubahan, apalagi peradaban. Saat muda mungkin terasa menikmati namun pada titik tertentu fisik akan kelelahan hingga terjadilah peningkatan kasus untuk cuci darah atau operasi ginjal yang memakan dana ratusan juta rupiah. Masih tidak suka dengan literasi dan olah raga pagi? Mari ubah gaya hidup kita sebagai warga Indonesia untuk keberlangsungan NKRI ratusan tahun ke depan, dimulai dari diri kita. Maraji’: 1. https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media#:~:text=Fakta%20pertama%2C%20UNESCO%20menyebutkan%20Indonesia,1%20orang%20yang%20rajin%20membaca! 2. https://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html 3. https://worldpopulationreview.com/country-rankings/average-iq-by-country 4. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7240879/dokter-beri-warning-pasien-cuci-darah-di-ri-makin-muda-ini-pemicunya
Membaca Dampak Literasi Generasi Muda Indonesia