Tadabbur Ayat-ayat Puasa Karya Dr. Atabik Luthfi, MA

Pengantar Buku Ayat-Ayat Puasa, Tadabbur Ayat-ayat Puasa Karya Dr. Atabik Luthfi, MA

Alhamdulillah, kebahagiaan yang patut disyukuri dengan hadirnya Ramadhan untuk mentajdid (memperbaharui) iman, islam dan semangat keta’atan kepada Allah swt. Karenanya, diantara kewajiban seorang muslim terhadap Ramadhan adalah merasakan anugerah nikmat yang tiada terhingga dengan kehadiran bulan tersebut setiap tahun. Bukti dari rasa syukur itu termanifestasi dalam pemanfaatan waktu-waktu Ramadhan untuk kebaikan. Jika tidak, kerugian dan penyesalan besar yang akan diterima seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam dialognya dengan malaikat Jibril as:

من أدرك شهر رمضان فلم يغفر له فدخل النار فأبعده الله قل آمين فقلت آمين  [ رواه ابن خزيمة وابن حبان في صحيحه ] .

“Barangsiapa yang mendapatkan bulan Ramadhan, namun ia tidak diampuni dosanya, lantas ia masuk neraka karenanya, maka berarti ia telah dijauhkan oleh Allah (dari rahmatNya). Jibril berkata: “Katakan Amiin (wahai Muhammad)”. Maka aku katakana: “Amiin”. ( HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Jika seseorang di bulan ampunan saja tidak berhasil meraih ampunan Allah, maka apalagi yang diharapkan, dan bulan apa lagi yang lebih menjanjikan baginya. Oleh karena itu, Rasul sangat mengharapkan kedatangan bulan ini karena kebaikan yang sangat banyak yang terdapat di dalamnya. Harapan Rasul tersebut tertuang dalam doanya menjelang bulan Ramadhan:

اللَّهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان .

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab, di bulan Sya’ban, dan sampaikan (usia) kami hingga berjumpa Ramadhan”. (HR. Imam Ahmad, Baihaqi dan Ibnu Majah). Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw menyambut dengan suka cita kedatangan tamu agung ini dengan ungkapannya:

أتاكم رمضان سيد الشهور فمرحباً به وأهلاً

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka selamat datang wahai Ramadhan”. (HR. Bazzar dan Baihaqi)

Menyambut bulan suci berarti mempersiapkan diri secara fisik, keilmuan, mental dan spiritual (baca: lahir dan bathin) agar berhasil meraih derajat yang tertinggi yang diharapkan oleh Allah swt melalui ungkapan firmanNya ‘la’allakum tattaqun’ (agar kalian lebih bertaqwa) dengan memperbanyak pundi perintah dan keta’atan kepada Allah dan memperkecil koleksi larangan Allah dalam segala bentuknya seperti dalam definisi sederhana dari kata ‘taqwa’ itu sendiri ‘فعل الأوامر واجتناب النواهى ‘.

Dari sekian banyak bekal yang harus kita persiapkan yang terpenting diantaranya adalah bekal ‘keber Al-Qur’anan’ kita. Dalam arti sejauh mana interaksi kita dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang puasa (Ayatus Shiyam): sudahkan kita familiar dengannya? Sejauhmanakah pemahaman kita terhadap ayat-ayat tersebut? Bagaimana usaha kita untuk lebih dekat dengan ayat-ayat puasa? Karena membaca, memahami dan memaknai ayat-ayat puasa merupakan langkah awal untuk mengamalkan isi kandungannya dalam konteks berpuasa dengan sebaik-baiknya. Dengan pemahaman yang baik dan komprehensif terhadap ayatus shiyam, diharapkan akan hadir semangat ber Ramadhan yang tertinggi untuk meraih keutamaannya yang tiada terhingga.

20 tafsir Ayatus Shiyam merupakan upaya mendekatkan kita dengan ayat-ayat Al-Qur’an dalam konteks memaknai keagungan Ramadhan dalam perspektif Al-Qur’an; apa dan bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang Ramadhan, apa harapan Allah terhadap hamba-hambaNya sepanjang bulan Ramadhan, siapa yang beruntung dan merugi di bulan Ramadhan, apa sajakah janji dan jaminan Allah bagi hambaNya di bulan Ramadhan, bagaimana tips dan strategi pembinaan diri ala Al-Qur’an di bulan Ramadhan, pengaruh positif Ramadhan dalam kehidupan diri, keluarga dan masyarakat secara umum, serta masih banyak lagi makna yang sarat dengan hikmah yang perlu kita gali dari nilai Al-Qur’an yang mulia yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan untuk memperkaya gaya dan penampilan akitifitas kita di bulan yang mulia tersebut.

Pendekatan tadabbur dalam karya ini menggunakan metode maudu’i (tematik) yang berkisar pada ayat-ayat yang berbicara tentang Rmadhan dalam berbagai perspektif, terutama pembangunan moral dan spritual yang merupakan dampak nyata dari amaliah Ramadhan pada diri seorang yang beriman. Kitab Tafsir yang dirujuk dalam tadabbur kali ini banyak mengacu kepada literatur tafsir generasi awal dari tafsir Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razi, Ibnu Katsir, Ibnu Asyur, As-Sa’di, Asy-Syaukani, Az-Zamakhsyari dan sebagainya, demikian juga sedikit dari kitab tafsir kontemporer seperti Fi Dzilalil Qur’an dan Al-Maraghi yang terkait dengan kondisi aktual umat Islam dewasa ini. Tentu, tidak semua permasalahan dirujuk ke semua karya tafsir tersebut, cukup memadai dengan mengutip pendapat yang unik, khas dan berbeda dengan umumnya para mufassir sebagai langkah ‘ikhtishar’.

Tema-tema yang diangkat dalam pembahasan karya tulis ini merupakan tema-tema yang berhubungan dengan Ramadhan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan berusaha mengkorelasikan dengan fenomena sehari-hari yang terjadi di tengah masyarakat untuk membangun relevansi yang kuat antara idealita ayat-ayat Al-Qur’an dengan realitas umat dari berbagai dimensi. Tentu, masih banyak tema-tema lain yang layak diangkat untuk memperkaya tazawwud ilmi (pembekalan keilmuan) kita dalam berinteraksi dengan bulan Ramadhan. Sentuhan yang dihadirkan melalui tema-tema Ramadhan kali ini difokuskan pada peningkatan kualifikasi moral dan spiritual orang yang beriman ketika menjalankan ibadah agung ini.

Tematisasi yang dibuat pada pembahasan karya tulis ini juga diusahakan secara runtut berdasarkan urutan ayatus shiyam yang terdapat di dalam Surah Al-Baqarah dari ayat 183-187. Bahkan diusahakan berurutan tidak hanya dari ayat per ayat, tetapi juga dari kalimat per kalimat dalam setiap ayatus shiyam, sehingga semakin memudahkan memahami ayatus shiyam secara kalimat per kalimat, maupun  secara ayat per ayat, namun tetap dengan tidak menafikan tema-tema lain yang memiliki keterkaitan lafdzi maupun ma’nawi dengan puasa Ramadhan, meskipun bersumber dari ayat-ayat yang lain.

Bahkan terkadang satu ayat dapat dijadikan referensi untuk beberapa tema pembahasan yang menarik dittinjau dari berbagai perspektif. Itulah agungnya Al-Qur’an; agungnya kalimat-kalimat Al-Qur’an, agungnya ma’na-ma’na Al-Qur’an, dan agungnya nilai-nilai yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. (Al-Qur’an Dzu Wujuh: Al-Qur’an memiliki berbagai perspektif)

Semoga dengan semakin baik interaksi kita dengan ayat-ayat Al-Qur’an, maka akan semakin baik juga interaksi kita dengan bulan Ramadhan, yang pada akhirnya kita termasuk hamba Allah yang layak dan memang berhak mendapatkan ampunan dan syurgaNya yang dibuka lebar-lebar sepanjang bulan yang penuh dengan keberkahan ini. Saatnya kita kembali kepada Al-Qur’an untuk meningkatkan pengamalan ‘ubudiyah’ di hadapan Allah swt, terutama di bulan penuh kemuliaan, Ramadhan Kariim.

 

Disalin dari Telegram: Ust. Dr. H. Atabik Luthfi, Lc, MA (Ust. DAL).

Anggota BWI 2017-2020. Alumni Fak. Al-Qur’an dan Dirasat Islamiyah Madinah Islamic University dan Malaysia National University