Resolusi empat pemuda

Oleh: Ukhuwan Ibnu Sa’id (Guru ngaji di PonPes Kasepuhan Raden Rahmat)

Empat pemuda sedang berkumpul di Hijr Ismail: setengah lingkaran sebelah ka’bah. Mereka membuat resolusi.

Empat pemuda itu adalah: Abdullah bin Umar, putra Umar Bin Khotob ra. Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair dan Mush’ab bin Zubair, ketiganya putra sahabat Zubair Bin Awwam ra, sepupu dan ipar Rasulullah saw sekaligus juga keponakan Khadijah ra: istri rasulullah saw. Abdullah bin Zubair dan Urwah bin Zubair, satu ibu: Asma’ binti Abu bakar. Sedangkan Mush’ab bin Zubair lahir dari rahim: Ar Rabab binti Unaif.

Salah satu diantara mereka mengatakan tamannaw yang berarti “berharaplah!”. Mereka sedang membuat resolusi. Visi atau “mutsul’ulya” yang berarti cita-cita luhur dan tertinggi dalam hidup. Ka’bah menjadi saksinya.

Resolusi pertama disampaikan oleh Abdullah bin Zubair, “Aku ingin menjadi Khalifah.” Penguasa tertinggi dalam struktur pemerintahan islam.

Selanjutnya Urwah Bin Zubair berkata, “Aku ingin menjadi tempat masyarakat mengambil ilmu.” Ulama

Kemudian Mush’ab bin Zubair berkata, “Aku ingin menjadi Amir Iraq dan menikahi Aisyah binti Thalhah dan Sakinah binti Husain.” Aisyah dan Sakinah adalah wanita yang memiliki pesona: kesholihan, kecerdasan, anggun dan cantik. Keduanya putri dari sahabat Rasulullah saw. Sempurna.

Terakhir Abdullah bin Umar berkata, “Aku ingin Allah swt mengapuniku.” Sederhana. Tapi mudah saja memahaminya, keluhuran selalu lahir dari mata air cinta. Cinta kepada Allah swt, ampunan Allah swt melebihi segalanya.

Mereka bukan para pemimpi di siang bolong, atau orang-orang yang berdo’a dalam kekosongan dan ketidakberdayaan. Mereka adalah para petani yang berdo’a di tengah sawah, para pedagang yang berdo’a di tengah pasar, para prajurit yang berdo’a di tengah kecamuk perang. Mereka mempunyai mimpi besar, tetapi pikiran mereka tercurahkan sepenuhnya pada kerja. Sesekali menatap langit untuk menyegarkan ingatan mereka tentang mimpinya. Mereka memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk mewujudkan resolusinya.

Do’a, kesungguhan, kerja yang berkesinambungan dan harapan bertemu dalam takdir-Nya. Adz-Dzahabi yang menukil kisah tersebut dari jalan Abu Az-Zannad, memberi penjelasan: “Mereka semua mendapatkan impian mereka.”

Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, Abdullah bin Zubair pernah menjabat sebagai Khalifah setelah wafatnya Yazid bin Mu’awiyah. Ia menguasai wilayah Hijaz, Mesir, Yaman, Irak, Khurasan dan sebagian wilayah Syam (Syiria). Pemerintahannya cukup lama sampai tahun 73 H, kurang lebih sepuluh tahun.

Urwah bin Zubair menjadi ulama besar di Madinah. Termasuk dalam fuqaha as-sab’ah al-madinah, sebutan untuk sekelompok ahli fiqih dari generasi tabi’in yang merupakan para tokoh utama ilmu fiqih di Madinah setelah wafatnya generasi sahabat yang hidup se-zaman dengan Rasulullah saw. Tujuh Fuqaha Madinah memberikan pengaruh besar pada dasar-dasar mazhab Maliki dan Syafi’i.

Mush’ab bin Zubair menjadi pemimpin di Iraq. Adapun cintanya pada Aisyah binti Thalhah dan Sakinah binti Husain, cintanya berbalas. Seperti kata Rumi “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain.” Ia menikahi keduanya dan memberikan mahar kepada masing-masing istrinya 500 ribu Dirham. Dan, ketika memboyong mereka, ia mengeluarkan uang sebanyak itu.

Hanya resolusi Abdullah bin Umar yang tidak bisa kita saksikan buktinya. Karena ampunan Allah swt merupakan sesuatu yang ghoib. Tetapi seperti penjelasannya Adz-Dzahabi, Abdullah bin Umar sangat mungkin telah diampuni Allah swt. Siapa yang meragukan keshalihannya? Orang yang tidak pernah meninggalkan sholat malam, orang yang sangat mencintai Rasulullah saw dan selalu meniru segala hal yang Rasulullah saw kerjakan dan orang yang banyak meriwayat Hadits setelah Abu Hurairah ra.

Sejarah adalah catatan keajaiban, lantas apa resolusimu?

مرجع: كتاب سير أعلام النبلاء